Yasemua orang amat mengidamkan sebutan ini, As Syahid Sayyid Quthb seorang ulama Mesir, menyebutkan bahwa kriteria Sang Pemenang adalah hamba Allah yang mewakafkan seluruh kehidupannya hanya untuk beribadah kepada-Nya, memperjuangkan aqidah serta agama yang dimilikinya, mempertahankan aqidah ditengah percaturan hidup, mempertahankan aqidah
Sikaphikmah dalam berdakwah adalah memperbaiki kondisi masyarakat di negerinya sendiri sebelum yang lain. Bahkan, (memperbaiki kondisi) keluarganya terlebih dahulu, sebelum yang lain, kemudian ke masyarakat yang terdekat, dan seterusnya. Hal ini dalam rangka mengikuti petunjuk Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
TafsirSurat At-Taubah Ayat 24 (Terjemah Arti) Paragraf di atas merupakan Surat At-Taubah Ayat 24 dengan text arab, latin dan artinya. Tersedia berbagai penjelasan dari banyak ahli tafsir terhadap kandungan surat At-Taubah ayat 24, antara lain seperti berikut: Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia.
Parasahabat saat itu terkejut. Riwayat menyebutkan, Rasulullah saw meninggal tapi ekspedisi belum juga dikirim. Kemudian Sayidina Abu Bakar memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi. Namun Sayidina Umar datang berkata, “Kalaupun engkau hendak mengirim, gantilah panglimanya. Usamah terlalu muda untuk memimpin ekspedisi yang besar.”.
Salahseorang di antara mereka bertawasul dengan amalan berbakti kepada kedua orang tuanya. Yaitu dia selalu memberikan susu kepada kedua orang tuanya sebelum memberikan kepada anak-anaknya bahkan dia bersabar menunggu untuk memberikan susu tersebut kepada orang tuanya sampai terbit fajar. (HR. Bukhari no. 5974 dan Muslim no. 2743)
Bersaksilahlaa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!” Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar. Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah.
ContohTeks Pidato – Pidato merupakan kegiatan berbicara yang dilakukan oleh seseorang dengan tujuan menyampaikan suatu hal. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan oleh seseorang untuk berorasi di depan khalayak ramai. Hal yang disampaikan dalam berpidato merupakan suatu ide ataupun gagasan. Agar bisa lebih jelasnya perlu untuk memahami
Alamsebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan. [1] Dalam bahasa Yunan i, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis.
Banyakorangtua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan agama pada anak-anaknya sehingga mereka hidup tanpa tuntunan. Padahal agama memberikan panduan lengkap mendidik anak. Nah, lewat tulisan ini saya akan memberikan gambaran jelas tentang cara mendidik anak ala Rasullulah SAW. Semoga menjadi Kisah teladan yang bermanfaat bagi kita semua.285.
Makaapakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada manusia melalui dua cara: Pertama, melalui Al-Qur’an dan kedua, melalui Al-Kaun (alam semesta). Al-Qur’an
Ketahuilah– semoga Allah merohmatimu- sesungguhnya Allah menegaskan & mendahulukan serta mengutamakan untuk mengetahui dan berilmu tentang At tauhid dari pada beribadah yaitu beristifghfar, dikarenakan " mengenal tauhid menunjukkan ilmu 'usul ( dasar pokok & pondasinya agama ), adapun beristighfar menunjukkan ilmu furu' ( cabang dan
Jikakita mendahulukan Kerajaan Allah, Yehuwa akan menyediakan semua kebutuhan kita. Yesus menjelaskan mengapa kita bisa yakin dengan janji itu. Dia berkata, ”Bapak surgawimu mengetahui bahwa kamu membutuhkan semua perkara ini.”. Yehuwa mengetahui kebutuhan Saudara, bahkan sebelum Saudara menyadarinya.
AllahSWT tidak suka terhadap perbuatan zalim, seperti firmannya: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran: 57).
Nas: Pengkh 2:24-26. Penulis mencapai dua kesimpulan: 1) Makan, minum, dan bekerja -- sebenarnya, semua kegiatan dalam hidup -- dapat memuaskan hanya apabila orang itu memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Hanya Dialah yang memungkinkan kita menemui kenikmatan dalam hidup ini. 2) Allah memberikan hikmat, pengetahuan, dan sukacita sejati
Paragrafdi atas merupakan Surat An-Nisa Ayat 94 dengan text arab, latin dan artinya. Diketemukan bermacam penafsiran dari beragam mufassirun berkaitan kandungan surat An-Nisa ayat 94, sebagiannya seperti tercantum: Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia. Wahai orang-orang yang beriman kepada allah dan rasulNYa serta melaksanakan
8OAYW. Al-Mu’akhkhir, Maha Mengakhirkan merupakan antonim al-Muqaddim, Maha Mendahulukan. Bermula segi Zat-Nya, Allah itu Maha yang Permulaan al-Awwal, enggak ada satupuan yang mendahului eksistensi-Nya. Dan Almalik itu Maha Keladak al-Penghabisan, tak cak semau sesuatu nan produktif eksis selepas-Nya. Allah itu Maha Mengakhirkan, dalam manfaat menempatkan di belakang, baik privat waktu, peristiwa, kedudukan, atau gelanggang. Al-Mu’akhkhir misal salah satu al-Asma’ al-Husna tidak ditemukan privat al-Qur’an, cuma disebut oleh Rasul Muhammad Saw dalam bilang hadisnya. Pelecok satunya disebut di penutup doa tahajjudnya, “Anta al-Muqaddim wa Anta al-Mu’akhkhir” Engkau ialah Maha Mendahulukan dan Kamu kembali Maha Membelakangkan HR Muslim. Jadi, al-Mu’akhkhir diyakini ibarat nama terbaik Allah nan terkait dengan sifat Zat dan sifat perbuatan-Nya, antara enggak mengakhirkan azab, belaka mengerapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dalam al-Qur’an dijumpai delapan kali alas kata “akhkhara”, berupa pernyataan langsung berpunca Allah SwT sebagai Praktisi dengan tiga macam objek, yakni menyorong siksa, memerosokkan sesuatu hingga batas waktu tertentu, dan lain memerosokkan kehadiran mangkat kematian apabila telah datang waktunya. Di antaranya, “lega hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang ditangguhkan/dilalaikannya.” QS al-Qiyamah [75] 13 “Dan berikanlah peringatan kepada anak adam terhadap hari yang pada waktu itu cak bertengger azab kepada mereka, maka berkatalah orang-bani adam zalim “Ya Almalik kami, beri tangguhlah kami kembalikanlah kami ke dunia walaupun n domestik tahun yang sedikit, niscaya kami akan memenuhi seruan Engkau dan akan mengikuti Utusan tuhan-rasul.” Kepada mereka dikatakan “Bukanlah kamu telah bersumpah dahulu di dunia bahwa sesekali anda lain akan binasa.” QS. Ibrahim [14] 44 al-Mu’akhkhir, Yang mahakuasa Maha Mengakhirkan aniaya dan menyegerakan peringatan-Nya. Allah mengakhirkan ancaman kesengsaraan, dan mendahulukan tanzil-Nya. Yang mahakuasa menyeringkan khasiat makhluk-makhluk-Nya atas amalan-amalan untuk-Nya. Halikuljabbar lagi mengakhirkan perintah bersyukur kepada-Nya, doang mendahulukan perintah berbuat baik kepada-Nya. Mendahulukan dan mengakhirkan atau menangguhkan sesuatu itu sesuai dengan ketentuan dan hikmah yang dikehendaki-Nya. وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ النحل61 “Sekiranya Tuhan menghukum basyar karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di roman dunia sesuatupun berasal makhluk nan melata, namun Allah menangguhkan mereka sampai plong waktu nan ditentukan, sehingga apabila telah tiba perian yang ditentukan cak bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak sekali lagi mendahulukannya.” QS. an-Nahl [16] 61. Sebagai contoh, tujuan pengakhiran azab akhirat dengan membebankan musibah, bencana, atau “siksa kecil ibarat peringatan” detik kehidupan di mayapada adalah semoga sosok sadar dan bersedia untuk bertobat dan sekali lagi ke jalan yang benar. “Dan Sesungguhnya Kami membuat mereka merasakan sebagian azab yang dekat di dunia sebelum azab nan lebih lautan di akhirat; mudah-mudahan mereka sekali lagi ke jalan yang bermartabat.” QS as-Sajdah [32] 21 Bermula merek al-Muakhkhir tersebut, setidaknya ada dua kategori ta’khir pengakhiran, penundaan, yaitu ta’khir kauni dan ta’khir syar’i. Pengakhiran eksistensial ta’khir kauni berkaitan dengan kelahiran, ajal kematian, rezeki, kedudukan, dan aneka peristiwa yang sudah ditetapkan Almalik SwT pasti terjadi puas anak adam-Nya di perian, tempat, dan kondisi tertentu. Semuanya menjadi nasib baik hak istimewa Allah, masa dan ajang kejadiannya tentu, tidak meleset, dan tidak dapat dimajukan. Jika ajal seseorang diakhirkan, maka makhluk itu meninggal belakangan dibanding khalayak lain. Seseorang diakhirkan rezekinya daripada orang tak, berjasa engkau makin miskin ketimbang orang tak, dan seterusnya. Adapun pengakhiran regulasional ta’khir syar’i itu berkaitan dengan amaliah ibadah tertentu pula. Dalam peristiwa ini, Nabi Saw diberi “wewenang” bakal menjadwalkan dan memberikan keteladanannya. Misalnya, disunahkan mendahulukan ta’jil berbuka puasa daripada melaksanakan shalat Maghrib; sebaliknya disunahkan mengemudiankan santap sahur. “Ketika mengadakan perjalanan, apabila tiba sebelum rawi membidik ke Barat belum masuk waktu zhuhur, Rasul SAW memutuskan shalat zhuhur dan menjamaknya di waktu ashar jamak ta’khir. Sebaliknya, jika start setelah waktu zhuhur tiba, beliau memacu shalat zhuhur dan menjamak taqdim di tahun shalat zhuhur.” HR al-Bukhari Meneladani resan Allah al-Mu’akhir mengharuskan kita mendahulukan dan mengakhirkan barang apa sesuatu sesuai dengan petunjuk-Nya. “Hai orang-orang berketentuan, janganlah engkau mendahului Sang pencipta dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar pun Maha Memahami.” QS. Al-Hujurat [49] 1. Artinya, hamba harus senantiasa mengakhirkan ego sektoral, perasaan dan pikiran subyektifnya dengan mendahulukan petunjuk Allah dan keteladanan Rasul-Nya. Menjadi hamba al-Mu’akhkhir meniscayakan pentingnya mengkaji dan memaklumi ayat-ayat Qur’aniyyah dan ayat-ayat kauniyyah alam semesta secara holistik-integratif dengan terus belajar, meluaskan ilmu pengetahuan, dan meneladani role model Nabi Saw. Hamba al-Mu’akhkhir harus selalu berpikir dalam-dalam positif dan berbaik sangka kepada ketetapan Allah Swt plong makhluk-Nya, dengan senantiasa bersikap arif dan cak hendak mengambil hikmah di mengsol semua yang terjadi di alam raya ini, seraya memufakati dan mengagumi-Nya “Ya Sang pencipta kami, tiadalah Kamu menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Dia, maka peliharalah kami berbunga siksa neraka.” QS Ali Imran [3] 191 Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Duta Superior IMLA Indonesia. Sumber Majalah Suara minor Muhammadiyah edisi 16-31 Agustus 2020. mf Views 583
khairahilyatur khairahilyatur B. Arab Sekolah Menengah Pertama terjawab seharusnya "Allah Swt selalu mendahulukan peringatan seblum datangnya ...." Id FF 326940119 mabar kuy Jangan mabar main by 1 aja yang menang giv diamond Iklan Iklan fidela87 fidela87 JawabanAzab/siksaan Maap kalau salah Makasih TERIMA KASIH ATAS BANTUANYA Gracias Благодарность ありがとう Iklan Iklan Pertanyaan baru di B. Arab Malaikat munkar dan nakir mendatangi orng kafir dengan rupa 6. يرجع اقبال …. المدرسة في الساعة الثانية ظهرا Pada kata فَأَمَّا terdapat hukum ghunnah karena Keluar lendir pink kecoklatan setelah mandi wajib seusai haid, bolehkah shalat? ريب الكلمة ابتداء من الكلمة التي تحتها خط ! قرية – من – قزية - قريبه - شؤكاجادي - شؤكا – – - Sebelumnya Berikutnya Iklan
Oleh Ustaz Rokhmat S. Labib, TAFSIR AL-QUR’AN – Allah Swt. berfirman, * كِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى * سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى * وَيَتَجَنَّبُهَا الأشْقَى * الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى * ثُمَّ لا يَمُوتُ فِيهَا وَلا يَحْيَا * “Oleh sebab itu, sampaikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut kepada Allah akan mendapat pelajaran. Orang-orang yang celaka kafir akan menjauhinya. Itulah orang yang akan memasuki api yang besar neraka, kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.” QS al-A’la [87] 9-11 Ayat ini memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. Respons mereka pun terbagi menjadi dua yang menerima dan yang menolak. Respons itu pun menentukan nasib mereka. Tafsir Ayat Allah Swt. berfirman, “Fadzakkir in nafa’ati adz-dzikrâ Oleh sebab itu sampaikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” Khithâb ayat ini juga ditujukan kepada Rasulullah saw. Menurut az-Zuhaili, kata at-tadzkîr bermakna mengingatkan manusia pada sesuatu yang sebelumnya telah diketahui, lalu dilupakan.[1] Kata ini bisa juga tidak mengingatkan dari perkara yang terlupakan, namun berguna untuk melanggengkan ingatan.[2] Masih menurut az-Zuhaili, yang dimaksud ayat ini adalah menyampaikan peringatan dan nasihat dengan Al-Qur’an.[3] Penjelasan yang sama juga dikemukakan al-Baghawi dan al-Khazin, yang memaknai frasa tersebut, “Nasihatilah dengan Al-Qur’ân.”[4] Imam al-Qurthubi juga berkata, “Nasihatilah kaummu dengan Al-Qur’an, wahai Muhammad.”[5] Asy-Syaukani menafsirkan ayat ini juga dengan pernyataan, “Sampaikanlah nasihat dengan apa yang Kami wahyukan kepada engkau, wahai Muhammad. Bimbinglah mereka kepada kebaikan dan tunjukilah mereka pada syariat-syariat agama.”[6] Perintah tersebut diiringi dengan firman-Nya, “In nafa’ati adz-dzikrâ jika peringatan itu bermanfaat.” Secara lahiriah, ayat ini memberikan pemahaman bahwa seolah-olah peringatan itu hanya diperintahkan apabila dapat memberikan manfaat. Jika tidak, maka peringatan itu tidak perlu diberikan. Pemahaman tersebut tentu tidak benar. Dikatakan al-Jurjani, memberikan peringatan itu wajib sekalipun tidak memberikan manfaat.[7] Kesimpulan tersebut amat tepat mengingat Rasulullah saw. adalah rasul untuk manusia lihat QS Saba’ [34] 28, al-A’raf [7] 158. Objek yang harus diberikan peringatan oleh beliau adalah seluruh manusia. Selain itu, sebelum peringatan diberikan kepada seseorang, tentu belum diketahui apakah peringatan tersebut akan bermanfaat atau tidak. Orang yang diduga menerima justru menolak. Sebaliknya, dikira menolak justru menerima. Oleh karena itu, sebelum peringatan disampaikan, tidak bisa dipastikan respons seseorang. Jika demikian, bagaimana memahami frasa, “in nafa’ati adz-dzikrâ itu? Menurut al-Wahidi ayat ini mengandung makna in naf’at aw lam tanfa’ jika bermanfaat atau tidak bermanfaat.” Hanya saja, frasa terakhir, yakni “aw lam tanfa’ atau tidak bermanfaat” tersebut tidak disebutkan. Penjelasan lainnya, huruf in jika tidak selalu memberikan makna syarat yang meniadakan perkara yang dipersyaratkan ketika syaratnya tidak ada. Ini terdapat dalam beberapa ayat, seperti firman Allah Swt., فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا “Tidaklah mengapa kalian men-qashar shalatmu jika kalian takut diserang orang-orang kafir.” QS al-Nisa’ [4] 101. Meskipun disebutkan “in khiftum jika kamu takut”, salat qashar bagi musafir boleh dilakukan, baik ketika dalam keadaan takut diserang orang-orang kafir maupun tidak. Demikian juga firman QS al-Baqarah [2] yang membolehkan suami merujuk istri yang telah ditalak tiga kali dan sudah dinikahi laki-laki lain. Meskipun disebutkan “in zhanna an yuqîmû hudûdul-Lâh jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah“, perbuatan tersebut boleh dilakukan meski tidak ada dugaan tersebut.[8] Ada pula yang memaknai huruf in tersebut sebagai sebab atas manfaat dari peringatan tersebut. Ini sebagaimana makna in dalam ungkapan “Qad awdhahtu laka in kunta ta’qilu Sungguh aku telah menjelaskan kepada kamu agar kamu paham.” Artinya, yang dimaksud adalah menjadi sebab atas manfaat yang diterima dari peringatan tersebut.[9] Dengan demikian frasa tersebut memberikan makna bahwa peringatan itu diperintahkan agar dapat memberikan manfaat, baik bagi orang yang diberi peringatan maupun yang menyampaikan peringatan itu. Ada pula aspek lain yang dipahami Ibnu Katsir dari ayat ini. Menurut Ibn Katsir, dari ayat ini dapat diambil adab dalam menyebarkan ilmu; bahwa ilmu tidak diberikan kepada orang yang tidak memiliki kelayakan. Ini sebagaimana dikatakan Amirul Mukminin Ali ra, “Tidaklah kamu berbicara dengan suatu kaum tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau akal mereka, kecuali menjadi fitnah bagi sebagian mereka.” Beliau juga berkata “Berbicaralah dengan apa yang mereka ketahui. Apakah kamu menyukai Allah dan Rasul-Nya didustakan?” [10] Ketika Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyampaikan peringatan kepada semua orang, kemudian diterangkan tentang orang-orang yang menerima dan menolaknya, serta orang-orang yang mendapatkan manfaat dan yang justru mendapatkan kecelakaan. Allah Swt. berfirman, “Sayadzdzakkaru man yakhsyâ Orang yang takut [kepada Allah] akan mendapat pelajaran.” Menurut al-Asfahani, kata “al-khasy-yâh” berarti khawf takut yang disertai dengan ta’zhîm sikap hormat dan memuliakan. Sikap tersebut kebanyakan didasarkan oleh pengetahuan tentang zat yang ditakuti tersebut. Oleh karena itu, sikap itu dikhususkan kepada ulama dalam firman-Nya إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” QS Fathir [35] 28.[11] Karena “khasy-yah” merupakan ketakutan yang disertai dengan sikap hormat, maka dalam Al-Qur’an sikap itu hanya ditujukan kepada Allah Swt. Lihat QS [51] 33; al-Kahfi [18] 80; al-Baqarah [2] 150; an-Nisa’ [4] 77; al-Ahzab [33] 39; an-Nisa’ [4] 9; dan lain-lain. Itu pula makna yang terkandung dalam ayat ini. Dijelaskan Ibnu Katsir, “man yakhsyâ” dalam ayat ini berarti orang-orang yang takut kepada Allah dan meyakini perjumpaan dengan-Nya.[12] Tak jauh berbeda, al-Qurthubi juga menafsirkan kalimat ini sebagai orang yang bertakwa dan takut kepada Allah.[13] Ibnu Jarir ath-Thabari juga berkata, “Orang yang takut kepada Allah SWT dan hukuman-Nya.”[14] Orang-orang yang takut kepada Allah Swt. itulah yang mengambil peringatan dan nasihat yang diberikan Rasulullah saw. Dalam ayat ini disebutkan, “Sayadzakkaru.” Artinya, “dia akan menerima nasihatmu.”[15] Dikatakan oleh az-Zamakhsyari, orang yang takut kepada Allah dan buruknya akibat itu lalu mempertimbangkan dan memikirkannya. Pertimbangannya itu kemudian membimbing dia untuk mengikuti kebenaran.[16] Atas pilihannya itu mereka mendapatkan as-sa’âdah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dikatakan oleh al-Biqa’i, “al-khasy-yah” rasa takut itu membawa pelakunya pada setiap kebaikan hingga hatinya merasa nikmat; dibalas dengan surga yang tinggi, dan hidup dengan kehidupan yang baik, tanpa ditimpa kesakitan dan kesusahan, kekal abadi tanpa akhir dan tanpa ujung.[17] Kemudian diberitakan tentang sikap orang yang sebaliknya, “Wa yatajannbuhâ al-asyqâ Orang-orang yang celaka kafir akan menjauhinya.” Jika yang disebutkan sebelumnya mau menerima peringatan dan mengambil nasihat yang disampaikan Rasulullah saw., maka mereka justru menjauhinya. Jika yang sebelumnya takut kepada Allah, maka mereka ini berani kepada Allah. Mereka pun mendapatkan balasan atas tindakan mereka. Dalam ayat ini disebut sebagai “al-asyqâ orang yang paling celaka.” Dikatakan al-Alusi, mereka adalah orang kafir yang terus dan tetap dalam pengingkarannya terhadap Hari Kiamat dan semacamnya. [18] Kata “al-asyqâ” merupakan bentuk at-tafdhîl dari kata asy-syaqiyy orang yang celaka. Mereka dinyatakan sebagai al-asyqâ orang yang paling celaka lantaran menerima azab yang amat besar. Azab tersebut diberitakan dalam ayat selanjutnya, “al-ladzî yashlâ an-nâr al-kubrâ [yaitu] orang yang akan memasuki api yang besar [neraka].” Pengertian “al-kubrâ” di sini adalah al-azhîmah wa al-fazhî’ah yang besar dan mengerikan. Dikatakan demikian karena panasnya lebih besar dan dahsyat daripada api dunia.[19] Menurut al-Hasan, an-nâr al-kubrâ adalah neraka akhirat. Adapun yang sughrâ yang kecil adalah neraka dunia. Sebagian mufasir mengatakan, semua neraka adalah neraka akhirat meskipun bertingkat-tingkat kerasnya. Ada neraka yang lebih besar daripada neraka lainnya. Dikatakan al-Farra’, “al-kubrâ” adalah tingkatan neraka yang paling bawah.[20] Kemudian Allah Swt. berfirman, “Tsuma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yahyâ kemudian dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.” Di dalam neraka itu mereka tidak mati dan tidak hidup. Mereka tidak mati sehingga dapat beristirahat dari azab; juga tidak hidup dengan kehidupan yang memberi dirinya manfaat.[21] Itulah siksa yang diterima oleh orang-orang yang menolak dan menyingkirkan peringatan Allah Swt. Mereka harus menghadapi siksaan yang besar atas tindakan lancang dan durhaka mereka terhadap Penciptanya, Allah Swt. Respons Manusia terhadap Peringatan Terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil dari ayat-ayat ini. Pertama perintah untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. Perintah ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam kalimat, “Fadzakkir berikanlah peringatan.” Menyampaikan peringatan dan nasehat merupakan tugas yang harus diemban Rasulullah saw. dan seluruh Rasul lainnya. Bahkan ini merupakan tugas utama seorang Nabi dan Rasul, termasuk beliau Lihat QS al-Ghasyiyah [88] 21. Patut dicatat, meskipun perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw., perintah tersebut juga berlaku bagi umatnya. Sebab, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan khithab itu hanya ditujukan untuk beliau, maka khithab itu berlaku umum. Demikian pula ayat ini. Apalagi sebagaimana dijelaskan para mufasir, pengertian ayat tersebut adalah memberikan peringatan dan nasihat dengan Al-Qur’an, apa yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., dan syariat agamanya. Perbuatan tersebut jelas diperintahkan kendati dilakukan dalam beberapa ungkapan dalam Al-Qur’an, seperti berdakwah dan mengajak manusia pada Islam lihat QS an-Nahl [16] 125, Fushilat [41] 33, melakukan amar makruf nahi mungkar lihat QS Ali Imran [3] 110, 114; at-Taubah [9] 71, menyampaikan wasiat kebenaran dan kesabaran kepada manusia QS al-Ashr [103] 30, dan lain-lain. Tentu saja, dalam detail dan fokusnya terdapat perbedaan-perbedaan. Namun, sasaran yang dituju adalah menjadikan manusia terikat dan mengamalkan syariat. Kedua kemungkinan sikap manusia terhadap peringatan yang diberikan. Sikap manusia ada dua kemungkinan 1 menerima dan mengambil peringatan itu sebagai pelajaran; 2 menolak dan menjauhinya. Sikap tersebut bisa terjadi lantaran beliau hanya diberi kewenangan memberikan peringatan, tidak diberi kewenangan untuk memaksa mereka harus menerima peringatan itu Lihat QS Qaf [51] 45. Meskipun tidak dipaksa, seharusnya manusia memilih sikap pertama, yakni menerima peringatan dari Allah Swt. Peringatan itu jelas demi kebaikan manusia ketika di dunia, kehidupannya mendapat limpahan berkah; di akhirat dia dimasukkan ke dalam surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya, tidak ada satu pun alasan yang bisa digunakan untuk mendukung pilihan kedua, yakni menolak dan menjauhi peringatan dari Allah Swt. Sebab, siapa pun yang menolak perintah itu hidupnya akan sesat dan ditimpa dengan kesengsaraan. Di akhirat kelak lebih celaka lagi. Siksaan amat dahsyat di “an-nâr al-kubrâ” neraka yang besar akan ditimpakan kepada dirinya. Demikian dahsyatnya sehingga membuat penghuninya tidak bisa hidup dan tidak pula mati. Karena itu, orang yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar niscaya akan memilih sikap yang pertama, yakni menerima peringatan dan nasihat itu Lihat QS al-Baqarah [2] 269; Ali Imran [3] 7. Ayat ini juga mengajari kita bahwa sebaik dan sebenar apa pun sebuah peringatan, dua kemungkinan itu selalu terjadi. Dengan demikian, adanya penolakan dari sebagian manusia terhadap sebuah ide, tidak menandakan bahwa ide itu salah. Tidak pula menunjukkan orang menyampaikannya keliru. Ini juga yang terjadi pada Islam. Tidak ada satu pun agama, pemikiran, dan ideologi yang dapat menandingi Islam. Yang menyampaikan juga manusia pilihan, Rasulullah saw. Meskipun demikian, tetap saja ada manusia yang menolak dan mengingkari, bahkan memusuhi Islam. Realitas ini harus menyadarkan para pengemban dakwah bahwa dakwahnya tidak selalu disambut dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Sebaliknya, kadang justru dakwahnya mengundang penolakan dari objek dakwah. Menghadapi realitas tersebut, pengemban dakwah tidak boleh kecil hati, apalagi surut langkah dan berputus asa. Dia harus tetap teguh dan bersabar dalam menyampaikan dakwah. Jangankan manusia biasa, Rasulullah saw. dan para nabi lainnya pun pernah mendapatkan perlakuan serupa. Allah Swt. berfirman, وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا “Sesungguhnya telah didustakan pula para rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka.” QS al-An’am [6] 34. Semoga kita selalu menerima peringatan dan mengambil nasihat dari Rasulullah saw. Semoga kita pun bisa meneladani beliau menyampaikan peringatan dan nasihat kepada seluruh manusia dengan risalah yang diturunkan kepada beliau, Islam. Sebaliknya, semoga kita tidak termasuk orang yang menolak peringatan dan mendapatkan ancaman siksa neraka. WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[MNews/Rgl] Referensi [1] Az-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 30 Damaskus Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998, 194. [2] Al-Ashfahani, Al-Mufradât Gharîb al-Qurân Damaskus Dar al-Qalam, 1992, 328 [3] Az-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 194. [4] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl fî Tafsîr al-Qurân, vol. 5 Beirut Dar Ihya’ al-Turats al-Arabi, 1420 H, 241; Al-Khazin, Lubâb at-Tawîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, 418. [5] Al -Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20 Kairo Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964, 20. [6] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 Damaskus Dar Ibn Katsir, 1994, 515. [7] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 515. [8] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 Beirut Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, 1420 H, 132-133. [9] Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31, 133. [10] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, vol. 8 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1999, 372. [11] Al-Ashfahani, Al-Mufradât Gharîb al-Qurân, 282. [12] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, vol. 8, 372. [13] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20, 20. [14] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Tawîl al-Qurân, vol. 24 tt Muassasah al-Risalah, 2000, 372. [15] Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 516. [16] Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 Beirut Dar al-Kitab al-Arabi, 1987, 740. [17] Al-Biqa’i, Nazhm ad-Durar, vol. 21 Kairo Dar al-Kitab al-Islami, tt, 399. [18] Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995, 320. [19] Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242. [20] Ibnu Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 Beirut Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003, 470; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, vol. 20, 20. [21] Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qurân, vol. 20, 20; lihat juga al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, vol. 5, 242. Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
33 Ayat Al-Quran Tentang Peringatan – Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah banyak memberikan umat manusia peringatan. Adapun peringatan Allah adalah berupa ancaman azab-Nya, neraka-Nya, dan siksaan-Nya, baik itu di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala telah mengutus para rasul-Nya juga salah satu tujuannya adalah sebagai pemberi peringatan. Allah juga telah menurunkan kitab-kitab-Nya di antara fungsinya adalah untuk memberi peringatan. Bahkan, memberi peringatan adalah perintah langsung dari Allah kepada kita karena sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Baca Juga 23 Ayat Al-Quran Tentang Orang Bertaqwa Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang peringatan. Simak selengkapnya di bawah ini. 1 Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, Abasa’ 11 2 Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Ad-Dukhaan 3 3 Maka segeralah kembali kepada mentaati Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Adz-Dzaariyaat 50-51 4 Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Adz-Dzaariyaat 55 5 Dan orang-orang kafir Mekah berkata "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Al-Ankabuut 50 6 oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, Al-A’laa 9 7 Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu kepada orang kafir, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al-A’raaf 2 8 Apakah mereka lalai dan tidak memikirkan bahwa teman mereka Muhammad tidak berpenyakit gila. Dia Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Al-A’raaf 184 9 Katakanlah "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." Al-A’raaf 188 10 Katakanlah "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." Al-Ahqaaf 9 11 Dan sebelum Al-Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini Al-Quran adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Al-Ahqaaf 12 12 Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan nya lalu mereka berkata "Diamlah kamu untuk mendengarkannya." Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Al-Ahqaaf 29 13 Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Al-Ahzaab 45 14 Katakanlah "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah "Allah." Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran kepadanya. Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah "Aku tidak mengakui." Katakanlah "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan Allah." Al-An’aam 19 15 Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Al-An’aam 48 16 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan Al-Quran." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. Al-An’aam 90 17 Dan ini Al-Quran adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk Ummul Qura Mekah dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya Al-Quran dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. Al-An’aam 92 18 Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah "Unjukkanlah hujjahmu! Al-Quran ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku." Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling. Al-Anbiyaa’ 24 19 Katakanlah hai Muhammad "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" Al-Anbiyaa’ 45 20 Sesungguhnya Kami telah mengutusmu Muhammad dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang penghuni-penghuni neraka. Al-Baqarah 119 21 Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Al-Baqarah 6 22 Manusia itu adalah umat yang satu. setelah timbul perselisihan, maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. Al-Baqarah 213 23 Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Al-Fath 8 24 Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan Al-Quran kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, Al-Furqaan 1 25 Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Al-Furqaan 56 26 Dan Kami turunkan Al-Quran itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Quran itu telah turun dengan membawa kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Al-Israa’ 105 27 Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. Al-Kahf 56 28 Katakanlah "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu." Al-Hajj 49 29 Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat hari kiamat yaitu ketika hati menyesak sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya. Al-Mu’min 18 30 Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. Al-Muddatstsir 31 31 Katakanlah "Sesungguhnya ilmu tentang hari kiamat itu hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." Al-Mulk 26 32 Dan Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Al-Qalam 52 33 Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. Faathir 24 Itulah berbagai ayat Al-Quran yang menyebutkan dan membicarakan tentang peringatan. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan pengetahuan kita semua. Baca Juga 15 Ayat Al-Quran Tentang Al-Quran Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 6 Shafar 1440 Hijriyah/16 Oktober 2018 Masehi.
allah mendahulukan peringatan sebelum memberikan